Pasangan Alfred dan Ina membagi pengalaman mereka dalam memangkas biaya dan mendapatkan tambahan ruang yang sehat. Inilah enam langkah renovasi murah itu:

1. Kamar tidur anak digeser ke bagian belakang. Kamar anak akan menempati sebagian lahan terbuka di halaman belakang. Proses ini menghasilkan satu kamar anak yang lebih besar, berukuran 3mx3m.
2. Untuk membuat kamar anak, mereka hanya membuat atap dan membangun sebuah dinding baru di belakang. Tiga bidang dinding lainnya merupakan dinding lama. Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan lebih hemat.
3. Penggeseran letak kamar anak menyisakan ruang baru pada area “bekas” kamar anak tadi. Area ini dimanfaatkan sebagai ruang keluarga.
4. Penggeseran ruang ke bagian belakang membuat space di bagian tengah cenderung menjadi lebih gelap. Untuk itu dibuat skylight. Hal yang sama (dengan ukuran 80cmx100cm) juga dipasang di ruang keluarga. Skylight terbuat dari akrilik 3mm (sebagai plafon) dan geteng kaca pada atap. Agar sinar matahari tidak terlalu berpendar, lubang skylight diberi pembatas seperti cerobong asap dari tripleks. (Foto: 02)
5. Kamar tidur dan kamar mandi pembantu dibuat di belakang kamar mandi utama. Penempatan kamar mandi pembantu berdampingan dengan kamar mandi utama, membuat mereka tak perlu perlu lagi membuat saluran pembuangan limbah yang baru. Saluran limbah kamar mandi baru bisa mendompleng saluran limbah kamar mandi utama.
6. Langkah akhir adalah memperbaiki elemen bangunan yang rusak. Plafon yang rusak dibuat baru. Keseluruhan lantai keramik pun diganti.

Source : http://kompas.com/read/xml/2008/06/16/17553129/6.langkah.renovasi.murah

Penelitian BPP Fakultas Teknik Tahun 2005

* Achfas Zacoeb, ST., MT
** Retno Anggraini, ST., MT

Terjadinya perubahan temperatur yang cukup tinggi, seperti yang terjadi pada peristiwa kebakaran, akan membawa dampak pada struktur beton. Karena pada proses tersebut akan terjadi suatu siklus pemanasan dan pendinginan yang bergantian, yang akan menyebabkan adanya perubahan fase fisis dan kimiawi secara kompleks. Hal ini akan mempengaruhi kualitas/kekuatan struktur beton tersebut.

Pada beton normal mutu tinggi dengan suhu 1200oC terjadi penurunan kekuatan tekan sampai tinggal 40% dari kekuatan awal, sedangkan pada Beton Mutu Tinggi dengan Silikafume dan Superplasticizer dimana senyawa silika pada silikafume dan senyawa hidrokarbon pada superplasticizer akan mengalami perubahan yang cukup berarti pada suhu tinggi dimana kekuatannya tinggal 35%.

Beton dengan silicafume memiliki kekuatan yang cukup baik hanya pada suhu rendah. Pada suhu tinggi akan muncul banyak kelemahan sehingga sebisa mungkin dihindarkan penggunaan silicafume pada struktur bangunan yang cenderung menghasilkan panas tinggi.

Kata kunci : silicafume, superplasticizer, kualitas beton, kuat tekan, pasca bakar

Dikutip dari : http://bppft.brawijaya.ac.id/?hlm=bpenelitian&view=full&thnid=2005&pid=1153962006

Dijual Precast Beton untuk lantai dan jembatan dengan tebal 20cm dan 25 cm.

Precast Beton

Precast Beton

Hubungi : 08122365117 / 02276062430

Undergraduate Theses from JBPTITBSI / 2005-02-09 12:03:37
Oleh : Jeffry M. Hutagaol & Ramadian Fajar, Departement of Civil Engineering
Dibuat : 2005-02-09, dengan 1 file

Keyword : Difusi Klorida, Metode Elemen Hingga, Korosi
Subjek : Beton Bertulang
Kepala Subjek : Structure Engineering
Nomor Panggil (DDC) : 624. 183 4 HUT

Beton bertulang merupakan komponen bangunan yang banyak digunakan karena merupakan material yang cukup ekonomis. Dengan berkembangnya infrastruktur, penggunaan beton bertulang di lingkungan laut sebagai bahan konstruksi semakin meningkat.
Aspek yang mempengaruhi usia layan struktur beton bertulang yang berada pada lingkungan taut adalah penetrasi klorida yang dapat memicu terjadinya korosi. Korosi yang terjadi pada tulangan dapat menyebabkan kegagalan struktur. Topik yang akan dibahas pada tugas akhir ini adalah pengembangan metode untuk menentukan usia layan beton bertulang di lingkungan laut berdasarkan kadar cairan klorida yang terdapat pada beton bertulang pada waktu tertentu dan pada jarak tertentu dari permukaan beton bertulang. Pemodelan transportasi klorida ke dalam beton bertulang dilakukan dengan menggunakan Hukum Ficks kedua.
Program dibuat untuk menganalisis kasus dimana struktur beton- bertulang bersifat semi-infinite. Metode yang digunakan untuk memecahkan persamaan Fick’ss II Law yang semi-infinite adalah metode konvensional yang menempatkan sebuah titik yang jauh di mana pada setiap waktu konsentrasi kloridanya adalah nol. Metode yang digunakan untuk memecahkan persamaan Fick’s II Law yang merupakan persamaan turunan parsial adalah metode semidiskrit dengan menggunakan metoda General Single Step untuk pendekatan terhadap waktu dan metoda Gauss Legendre Quadrature untuk pendekatan terhadap jarak.
Program yang dibuat merupakan pengembangan dari program yang sudah ada, dalam hal ini adalah penambahan jenis elemen perhitungan pada program Pcfeap yang telah dikembangkan oleh O. C. Zienkiewicz dan R. L. Taylor.
Dalam tugas akhir ini akan dibahas beberapa aspek yang mempengaruhi penetrasi klorida ke dalam beton, yaitu konsentrasi klorida di permukaan (Cs), koefisien difusi (D), dan waktu. Berdasarkan teori, semakin besar Cs, D, dan waktu maka semakin besar harga konsentrasi klorida yang diperoleh. Setelah dilakukan analisis, ternyata hasil yang diperoleh melalui program komputer sesuai dengan teorinya. Hasil program yang dibuat telah dibandingkan dengan basil percobaan dan menunjukkan basil yang sangat mirip. Selain itu basil program juga telah dibandingkan dengan basil solusi eksak dan ternyata hasilnya menunjukkan perbedaan yang tidak terlalu signifikan.
Dalam tugas akhir ini juga dibahas pengaruh parameter Cs, D, dan kedalaman tulangan terhadap usia layan sebuah beton bertulang. Di mana usia layan beton diasumsikan hanya initiation time saja yaitu waktu yang diperlukan untuk klorida berdifusi hingga sampai pada level tulangan dan memicu terjadinya korosi.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program yang dibuat hasilnya cukup dapat dipertanggungjawabkan apabila dibandingkan dengan teori, hasil percobaan, maupun dengan solusi eksak.

Dikutip dari :http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jbptitbsi-gdl-s1-2005-jeffrymhut-672&q=Elemen

Oleh: Djwantoro Hardjito

AKHIR-akhir ini, industri semen dan beton semakin sering disorot, khususnya oleh para pecinta lingkungan. Ini disebabkan emisi karbon dioksida, komponen terbesar gas rumah kaca, yang dihasilkan dari proses kalsinasi kapur dan pembakaran batu bara. Isu lingkungan ini tampaknya akan memainkan peran penting dalam kaitan dengan isu pembangunan berkelanjutan di masa mendatang.

Dari Konferensi Bumi yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brasil tahun 1992 dan di Kyoto, Jepang tahun 1997 dinyatakan bahwa emisi gas rumah kaca ke atmosfer yang tak terkendali tidak bisa lagi diterima dari sudut pandang kepentingan sosial dan kelestarian lingkungan dalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan. Gas rumah kaca yang menjadi sorotan utama adalah gas karbon dioksida karena jumlahnya yang jauh lebih besar dari gas lainnya seperti oksida nitrat dan metan.

Dalam produksi satu ton semen Portland, akan dihasilkan sekitar satu ton gas karbon dioksida yang dilepaskan ke atmosfer. Dari data tahun 1995, jumlah produksi semen di dunia tercatat 1,5 miliar ton. Hal ini berarti industri semen melepaskan karbon dioksida sejumlah 1,5 miliar ton ke alam bebas.

Menurut International Energy Authority: World Energy Outlook, jumlah karbon dioksida yang dihasilkan tahun 1995 adalah 23,8 miliar ton. Angka itu menunjukkan produksi semen portland menyumbang tujuh persen dari keseluruhan karbon dioksida yang dihasilkan berbagai sumber. Tampaknya proporsi ini akan terus bertahan atau bahkan meningkat sesuai dengan peningkatan produksi semen kalau tidak ada perubahan berarti dalam teknologi produksi semen atau didapatkan bahan pengganti semen. Pada tahun 2010, diperkirakan total produksi semen di dunia mencapai angka 2,2 miliar ton.

Merujuk pada besarnya sumbangan industri semen terhadap total emisi karbon dioksida, perlu segera dicarikan upaya untuk bisa menekan angka produksi gas yang mencemari lingkungan ini. Tampaknya perbaikan teknologi produksi semen tidak terlalu bisa diharapkan dapat menekan produksi karbon dioksida secara signifikan. Penggantian sejumlah bagian semen dalam proses pembuatan beton, atau secara total menggantinya dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan menjadi pilihan yang lebih menjanjikan.

Abu Terbang
Pakar teknologi beton yang bermukim di Kanada, VM Malhotra, memelopori riset penggunaan abu terbang (fly ash) dalam proporsi cukup besar (hingga 60-65 persen dari total semen Portland yang dibutuhkan) sebagai bahan pengganti sebagian semen dalam proses pembuatan beton. Sebelumnya banyak peneliti menggunakannya hanya dalam proporsi kecil.

Abu terbang adalah abu sisa pembakaran batu bara yang dipakai dalam banyak industri. Abu terbang sendiri tidak memiliki kemampuan mengikat seperti halnya semen. Tetapi dengan kehadiran air dan ukuran partikelnya yang halus, oksida silika yang dikandung oleh abu terbang akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida yang terbentuk dari proses hidrasi semen dan menghasilkan zat yang memiliki kemampuan mengikat.

Adanya kalsium hidroksida dalam beton selama ini ditengarai sebagai sumber perusak beton sebelum waktunya, khususnya bila beton berada di lingkungan yang agresif. Karenanya, penambahan atau penggantian sejumlah semen dengan abu terbang berpotensi menambah keawetan beton tersebut. Selama ini abu terbang tidak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja, sehingga memiliki potensi mencemari lingkungan.

Upaya yang dipelopori Malhotra dan kawan-kawan ini tampaknya memberikan hasil menjanjikan. Beton yang dihasilkan ternyata menunjukkan tenaga tekan tinggi serta memiliki sifat keawetan (durability) lebih baik dibanding beton biasa yang sepenuhnya menggunakan semen Portland. Upaya ini dikembangkan lebih lanjut dengan pemanfaatan bahan-bahan sisa lainnya yang mempunyai kandungan oksida silika tinggi seperti silica fume, slag atau bahkan abu sekam dan jerami.

Dari konferensi Concrete 2001 yang diselenggarakan di Perth, Australia, belum lama ini, dilaporkan penggunaan HVFA (high volume fly ash) concrete atau beton dengan kandungan abu terbang tinggi pada sejumlah proyek infrastruktur, demikian pula penggunaan bahan buangan lain seperti slag. Beton tersebut dilaporkan menunjukkan hasil memuaskan di lapangan. Dalam waktu singkat di masa mendatang, penggunaan beton jenis ini diperkirakan akan meningkat dengan cepat. Selain lebih ramah lingkungan, mengurangi jumlah energi yang diperlukan karena berkurangnya pemakaian semen, lebih awet dan lebih murah, bahan ini juga tetap menunjukkan perilaku mekanik memuaskan.
Perkembangan mutakhir yang menjanjikan adalah penggunaan abu terbang sepenuhnya sebagai pengganti semen lewat proses yang disebut polimerisasi anorganik (kadang disebut geopolimer) yang dipelopori oleh seorang ilmuwan Prancis, Prof. Joseph Davidovits, sekitar 20 tahun lalu.

Geopolimer semen, demikian nama yang diberikan, menjadi harapan utama mereduksi penggunaan semen untuk keperluan pembangunan infrastruktur. Setidaknya untuk pembuatan beton pracetak. Walaupun tahapan yang harus dilalui untuk memasalkan penggunaan teknologi ini masih jauh, setidaknya hasil riset yang ada selama ini menunjukkan hasil menjanjikan. Saat ini, riset beton geopolimer giat dilakukan di sejumlah lembaga riset atau universitas khususnya di Prancis, Amerika Serikat dan Australia.

Manfaat Ganda
Tahun 1989, total abu yang dihasilkan dari pembakaran batu bara di seluruh dunia mencapai 440 miliar ton. Sekitar 75 persen adalah abu terbang. Produsen utama adalah negara-negara bekas Uni Soviet (99 miliar ton), diikuti Cina (55 miliar ton), Amerika Serikat (53 miliar ton) dan India (40 miliar ton). Produksi abu ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Cina sendiri menghasilkan lebih dari 110 miliar ton abu di tahun 2000, dengan total produksi abu dunia tahun 2000 mencapai angka 661 miliar ton.

Tingkat pemanfaatan abu terbang dalam produksi semen saat ini masih tergolong amat rendah. Cina memanfaatkan sekitar 15 persen, India kurang dari lima persen, untuk memanfaatkan abu terbang dalam pembuatan beton. Abu terbang ini sendiri, kalau tidak dimanfaatkan juga bisa menjadi ancaman bagi lingkungan. Karenanya dapat dikatakan, pemanfaatan abu terbang akan mendatangkan efek ganda pada tindak penyelamatan lingkungan, yaitu penggunaan abu terbang akan memangkas dampak negatif kalau bahan sisa ini dibuang begitu saja dan sekaligus mengurangi penggunaan semen Portland dalam pembuatan beton.

Mengingat terbatasnya bahan baku dan kondisi lingkungan hidup yang makin merosot, maka diperlukan inovasi untuk menghasilkan material konstruksi yang murah, hemat energi dalam proses produksinya, memiliki sifat keawetan yang tinggi serta sedikit menghasilkan karbon dioksida atau bahan-bahan berbahaya lainnya.

Pembuatan semen geopolimer dapat mereduksi hingga 80 persen jumlah karbon dioksida yang dihasilkan dari proses pembuatan semen biasa (semen Portland). Bahkan para peneliti dari Universitas Melbourne, Australia, di bawah pimpinan Prof. J Van Deventer mengemukakan hasil riset mereka bahwa beton geopolimer dapat dimanfaatkan untuk memasung (‘immobilise’) bahan-bahan berbahaya yang mengandung radioaktif maupun bahan-bahan beracun lain, seperti tailing. Dalam laporan penelitian disebutkan hampir semua bahan buangan industri yang mengandung unsur-unsur silika dan alumina bisa dibuat menjadi semen geopolimer.

Kenyataan bahwa semen geopolimer dapat diproduksi dari bahan-bahan buangan atau limbah industri, mengurangi emisi karbon dioksida secara amat signifikan, memiliki sifat keawetan unggul dan mampu memasung bahan-bahan beracun, mengukuhkannya sebagai material konstruksi masa depan.

Saat ini belum semua sifat fisik dan mekaniknya dipahami dengan baik. Sehingga para peneliti berupaya mengenali perilakunya lewat sejumlah riset yang dilakukan. Bila perilaku fisik dan mekaniknya telah dikenali dengan baik, produk-produk aplikasinya di bidang infrastuktur dapat diwujudkan dengan mudah.

Penulis: Dosen tetap FT Unika Widya Mandira Kupang, sedang studi di Australia

Dikutip dari : http://www.sinarharapan.co.id/berita/0110/29/ipt03.html

Abstract
Concrete is widely used as construction material all over the world. Factors which affect the strength of the concrete materials are discussed in detail in this paper. The core test is commonly adopted to examine and measure the material strength of concrete structure. This type of test is described and the objectives in performing such assessment are presented. In addition the tension capacity of concrete material is also explained and the association with its compression strength are outlined together with factors affecting the relationships. The effects of biaxial and triaxial loading on a cracked strctures are briefly introduced.

Katakunci : beton, semen, agregat, core, tarik dan tekan

SUMBER :

Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, V2. n6, September 2000, hal. 48-60 /Humas-BPPT/ANY

PENDAHULUAN

Beton (concrete) adalah satu bahan yang paling banyak pemakaiannya di seluruh dunia selain baja dan kayu. Beton digunakan di hampir semua tempat seperti di atas tanah (gedung dan jembatan), di bawah tanah (pondasi, terowongan), di dasar laut (pipa minyak, anjungan lepas pantai), di atas air (kapal-kapal ferosemen) dan bahkan saat ini sedang dikaji pembuatan beton di bulan ( lunar concrete). Hal ini antara lain disebabkan oleh mudahnya memperoleh bahan penyusun beton dan kesederhaan pembuatan struktur beton.

Beton dapat dibuat dengan berbagai macam mutu. Perbedaan mutu beton ini biasanya ditunjukkan oleh perbedaan pada kuat tekannya.

KESIMPULAN

Bahan beton dipakai secara luas di dunia sebagai bahan konstruksi. Beton dapat dibuat dengan berbagai mutu, sedangkan mutu itu sendiri biasanya dinyatakan dengan kekuatan beton tersebut dalam menahan gaya tekan.

Faktor=factor yang mempengaruhi mutu beton meliputi perbandingan air/semen, jenis semen yang digunakan, ada atau tidaknya bahan tambahan, agregat yang digunakan, kelembaban dan suhu ketika pengeringa, umur beton maturitas dan kecepatan pembebanan. Untuk mengukur kekuatan beton, umumnya digunakan uji core.

Kekuatan tarik beton jauh lebih rendah dari kekuatan tekannya. Uji tarik baku digunakan untuk mengetahui besarnya kuat tarik ini dan sekaligus mengetahui hubungan antara kekuatan tarik dan kekuatan tekan. Hasil pengukuran dan percobaan menunjukkan bahwa kekuatan tarik beton bervariasi antara 8% sampai 15% dari kekuatan tekan.

Sumber : http://www.iptek.net.id/ind/?mnu=8&ch=jsti&id=181

By Mary Bellis

Concrete is a material used in building construction, consisting of a hard, chemically inert particulate substance, known as an aggregate (usually made from different types of sand and gravel), that is bonded together by cement and water.

The Assyrians and Babylonians used clay as the bonding substance or cement. The Egyptians used lime and gypsum cement. In 1756, British engineer, John Smeaton made the first modern concrete (hydraulic cement) by adding pebbles as a coarse aggregate and mixing powered brick into the cement. In 1824, English inventor, Joseph Aspdin invented Portland Cement, which has remained the dominant cement used in concrete production. Joseph Aspdin created the first true artificial cement by burning ground limestone and clay together. The burning process changed the chemical properties of the materials and Joseph Aspdin created a stronger cement than what using plain crushed limestone would produce.

The other major part of concrete besides the cement is the aggregate. Aggregates include sand, crushed stone, gravel, slag, ashes, burned shale, and burned clay. Fine aggregate (fine refers to the size of aggregate) is used in making concrete slabs and smooth surfaces. Coarse aggregate is used for massive structures or sections of cement.

Concrete that includes imbedded metal (usually steel) is called reinforced concrete or ferroconcrete. Reinforced concrete was invented (1849) by Joseph Monier, who received a patent in 1867. Joseph Monier was a Parisian gardener who made garden pots and tubs of concrete reinforced with an iron mesh. Reinforced concrete combines the tensile or bendable strength of metal and the compressional strength of concrete to withstand heavy loads. Joseph Monier exhibited his invention at the Paris Exposition of 1867. Besides his pots and tubs, Joseph Monier promoted reinforced concrete for use in railway ties, pipes, floors, arches, and bridges.

History of Structural Concrete Case Studies
Buildings that were significant to the development of the architectonic language of reinforced concrete. Each one was a proving ground, in one way or another, for design techniques, construction methods or spatial delineation.

Related Information
Skyscrapers
Sea-cretion
Wolf Hilbertz, German architect and inventor is the father of sea-cretion, the electrolytic deposition of sea-shell-like minerals from seawater that creates a construction material. Patented on January the 20th, 1981.

Sumber : http://inventors.about.com/library/inventors/blconcrete.htm

HCS Beton

Dalam konstruksi, beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi aggregat dan pengikat semen. Bentuk paling umum dari beton adalah beton semen Portland, yang terdiri dari agregat mineral (biasanya kerikil dan pasir), semen dan air.

Biasanya dipercayai bahwa beton mengering setelah pencampuran dan peletakan. Sebenarnya, beton tidak menjadi padat karena air menguap, tetapi semen berhidrasi, mengelem komponen lainnya bersama dan akhirnya membentuk material seperti-batu. Beton digunakan untuk membuat perkerasan jalan, struktur bangunan, fondasi, jalan, jembatan penyeberangan, struktur parkiran, dasar untuk pagar/gerbang, dan semen dalam bata atau tembok blok. Nama lama untuk beton adalah batu cair.

Dalam perkembangannya banyak ditemukan beton baru hasil modifikasi, seperti beton ringan, beton semprot (eng: shotcrete), beton fiber, beton berkekuatan tinggi, beton berkekuatan sangat tinggi, beton mampat sendiri (eng: self compacted concrete) dll.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Beton

PT. Beton Elemenindo Perkasa mengucapkan Selamat Hari Kebangkitan Nasional.

(more…)

Website was update : home page and product page with Ajax.

http://www.beton.co.id

http://www.beton.co.id/product.php?lang=en (more…)

« Previous PageNext Page »