Menjelang bulan suci Ramadhan 2007, daerah Bengkulu dan sekitarnya kembali diguncang gempa tektonik berkekuatan 8,7 skala ritcher (SR). Selain menelan korban jiwa, bencana ini juga merusakan kurang dari 61 ribu rumah serta ratusan bangunan umum yang menurut taksiran Bakornas Penanggulangan Bencana Nasional bisa mencapai angka Rp. 600 miliar lebih.

Berdasarkan pengalaman rehabilitasi pasca gempa, sebenarnya ada dua aspek penting yang kerap mengemuka dalam pembangunan kembali kawasan pemukiman dan bisnis yakni faktor percepatan pembangunan serta kemampuan meminimalisasi dampak dari potensi gempa mendatang. Salah satu material yang belakangan mulai banyak dipergunakan untuk program tersebut adalah beton ringan.

Menilik sejarahnya, tekhnik beton ringan pertama kali dikembangkan oleh “Joseph Hebel” di Jerman pada tahun 1943. melalui produk Hebel, beton ringan pun mendapat julukan “Aerated Lightweight Concrete (ALC)”. Material ini terbuat dari adonan kapur, pasir, silika, semen, air berikut bahan pengembangan yang dicampur dalam proses “Steam Curing” yakni sintesa kimiawi gas hidrogen yang menciptakan pori-pori kecil pada cetakan adonan beton ringan. Meski berbasis beton, namun justru memiliki berat jenis lebih ringan ketimbang material baja, beton bertulang, batu bata, batako bahkan kayu. Bila beton ringan digunakan sebagai elemen non struktur seperti dinding, partisi maka beban yang diterima elemen dtruktural seperti plat, justru dapat mengurangi massa total strukturyang menyebabakan beban menjadi lebih kecil sehingga desain akan menjadi lebih rigan. Selain itu material ini juga memiliki karakter sebagai isolator kebisingan maupun panas yang baik sehingga tidak mudah terbakar samapai lebih dari 3jam.

Ketahanan beton ringan terhadap gaya vertikal dan horizontal gempa setidaknya baru-baru ini berhasil diujikan oleh staff pengajar Rekayasa Struktur Fakultas Tekhnik Sipil (ITB). Melalui pengujian perilaku papanel dinding dan lantai Hebel berikut diagframa sambungan terhadap efek lentur, terbukti bahwa panel panel beton ringan sangup menyalurkan beban lentur dan geser gempa. Lebih baik lagi apabila menggunakan premium plaster PM 200. sedang pada uji sia diafragma menunjukan penguanaan mortal yang menyambungkan PM-6000 dan tulangan pemikat.

Di luar Hebel, terdapat nama Beton Elemenindo Perkasa (BEP) yang menawarkan produk B-Panel. Terdiri atas panel tunggal untuk dinding bangunan hingga setinggi 4 lantai, panel ganda untuk bangunan bertingkat hingga 20 lantai, panel lantai serta panel tangga dan panel tangga landai. B-Panel terbuat dari lembaran “Polystyrene” sebagai insulator suhu dan suara serta dilapisi 2 lembar Wire mesh yang di las. “tekstur” ini menjadikannya sanggup menahan gaya aksial dan lateral gempa maupun badai, serta mampu meredam kebisingan dan tahan api. Selain B-Panel, BEP juga memproduksi panel Fasade dari beton serta pelat beton berongga prategang pracetak (HCS) untuk lantai dan atap bangunan bertingkat. “keunggulan pelat beton berongga (HCS) dibanding pelat beton konvensional adalah bobotnya lebih ringan 29-42%, serta lebih tahan terhadap panas ekstrim karena di buat melalui proses efek kompresi. Lagi pula permukaan pelat paling bawah tidak memerlukan finish sing sehingga dapat berfungsi sebagai beton ekspos”.

Written by Redaksi Infobangunan

url : http://infobangunan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=3&Itemid=1